Dumonduh.com - Seorang peneliti dari Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS), Muhammad Anwar, menyampaikan kekhawatirannya mengenai dampak middle income trap terhadap ketimpangan ekonomi. Menurutnya, ketika pertumbuhan ekonomi tidak cukup cepat untuk menciptakan lapangan kerja serta pemerataan kesejahteraan, maka kesenjangan antara kelompok ekonomi atas dan bawah akan semakin besar.
“Kondisi ini bisa memicu ketidakstabilan sosial, meningkatkan risiko konflik, serta menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Banyak negara yang terperangkap dalam middle income trap mengalami gelombang ketidakpuasan publik akibat ketimpangan ekonomi yang semakin tajam,” ujar Anwar dalam wawancara dengan inilah.com pada Jumat (14/3/2025).
Middle income trap sendiri merupakan kondisi di mana suatu negara mengalami stagnasi dalam pertumbuhan ekonomi setelah mencapai pendapatan menengah, sehingga sulit untuk bertransisi menjadi negara maju.
Tanpa adanya pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan signifikan, pendapatan per kapita masyarakat cenderung stagnan. Hal ini berisiko memperburuk keadaan, sebab biaya hidup terus meningkat sementara peluang ekonomi tidak berkembang. Akibatnya, daya beli masyarakat menurun dan ketimpangan sosial semakin melebar.
Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Rachmat Pambudy, menegaskan bahwa saat ini merupakan kesempatan terakhir bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle income trap.
“Ini adalah momen penentuan, sekarang atau tidak sama sekali. Mengapa sekarang? Karena kita masih memiliki bonus demografi yang harus dimanfaatkan secara optimal demi mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkualitas,” ujar Rachmat dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta pada Kamis (13/3/2025), dikutip dari Antara.
Ia menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkualitas menjadi kunci utama. Jika hal ini tidak tercapai, maka Indonesia berisiko mengalami stagnasi dan tidak mengalami perkembangan yang signifikan.
0Komentar